Pages

Rabu, 29 Agustus 2012

SEJARAH PEMBANGUNAN KABAH






SEJARAH PEMBANGUNAN KA'BAH


Ka’bah adalah rumah suci Allah Subhanahu wa Ta’ala, kiblat kaum muslimin. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikannya menara tauhid dan simbol ibadah. Allah yang maha tinggi berfirman:

“Allah Telah menjadikan Ka’ba

h, rumah Suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia, dan (demikian pula) bulan Haram, had-ya, qalaid. (Allah menjadikan yang) demikian itu agar kamu tahu, bahwa Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan bahwa Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (al-Maidah: 97)

Ka’bah juga merupakan rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Agung lagi Maha Tinggi. Dia berfirman:

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” (Ali ‘Imran: 96)

Ka’bah yang mulia memiliki sejarah panjang, tahapan panjang telah dia lalui, sejarahnya dimulai pada masa Nabi Allah Ibrahim dan anaknya ‘Alaihima Sallam ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkannya dan keluarganya untuk tinggal di Makkah. Makkah pada waktu itu merupakan dataran yang tandus lagi gersang. Setelah menetap di Makkah dan Ismail ‘Alaihi Sallam mencapai usia baligh Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan keduanya untuk membangun Ka’bah dan meninggikan (membina) dasar-dasar Ka’bah, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”. (al-Baqarah: 127)

Maka Ismail ‘Alaihi Sallam yang mendatangkan batu-batu sedangkan Ibrahim ‘Alaihi Sallam yang membangun, dan terbentuklah Ka’bah sedikit-demi sedikit sampai jadi tinggi yang tangan tidak akan sampai merai ketinggiannya, disisi Ka’bah datang Ismail ‘Alaihi Sallam membawa sebuah batu agar bapaknya bisa manjat diatasnya dan sempurnalah amalnya, mereka masih meneruskan pembangunan Ka’bah sambil berdo’a: “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami)” hingga selesailah proses pembangunan dan sempurnalah bentuknya.

Kemudian menetapkah sebagian suku-suku Arab di Makkah seperti al-’Amaliq dan Jurhum. Bangunan Ka’bah pernah rusak lebih dari sekali karena banyaknya banjir dan factor-faktor yang mempengaruhi bangunan, dan orang-orang kedua sukulah yang menangani perbaikan dan perawatan Ka’bah.

Tahunpun berlalu sampai suku Quraisy membangun kembali Ka’bah. Dan itu terjadi 5 tahun sebelum Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diangkat menjadi Rasul, dan adalah bangunan Ka’bah ketika itu masih dalam bentuk bebatuan yang terusun sebagiannya diatas sebagian yang lain tanpa plesteran, sehingga banjir yang melanda Makkah dari waktu ke waktu berpengaruh pada kekuatan Ka’bah, menumbangkan dindingnya sehingga hampir saja roboh/rata dengan tanah, lalu suku Quraisy memutuskan merenovasi Ka’bah menjadi bangunan yang kuat tahan banjir.

Ketika mereka bersepakat untuk merenovasi Ka’bah berdirilah ditengah-tengah mereka Abu Wahab bin Amr seraya berkata: “Hai suku Quraisy janganlah kau menyumbang untuk bangunannya dari usahamu (rizqimu) kecuali yang baik (diperoleh dari jalan hang halal). Jangan sampai tercampur oleh uang hasil melacur, jual beli riba atau dari hasil kehzaliman seseorang. Akan tetapi suku Quraisy takut untuk merobohkan sisa tembok Ka’bah yang tersisa, mereka takut ditimpa murka Allah karena usaha mereka. Lalu Walid bin Mughirah berkata kepada mereka: “Saya akan memulai untuk merobohkannya maka dia mengambil cangkul dan mulai untuk merobohkannya sambil berkata: “Ya Allah kami tidak akan berpaling dan tidak ada yang kami inginkan kecuali hanya kebaikan. Lalu dia merobohkannya dari bagian kedua sudutnya. Pada malam harinya orang-orang menanti untuk melihat apakah Mughirah ditimpa musibah kerana perbuatannya? Maka tatkala mereka melihtanya menemui mereka pada pagi harinya dalam keadaan tidak kurang suatu apapun, berangkatlah mereka ke Ka’bah lalu merekapun menyelesaikan perobohannya hingga yang tersisia hanya pondasi yang dibangun oleh Ibrahim ‘Alaihi Sallam.

Selanjutnya mulailah periode/tahapan pembangunan, pembagian tugas antara para suku terlaksana dengan baik. Tiap suku mengurus satu bagian dari bagian-bagian Ka’bah, mulailah mereka membangunnya dengan batu lembah. Tatkala sampai pada tahap peletakan hajar aswad terjadilah perpecahan antara mereka, sampai datang Abu Umayyah bin Mughirah al-Makhzumi lalu dia usul pada mereka agar menyerahkan keputusan dalam perselisihan yang terjadi diantara mereka kepada orang yang pertama kali masuk menuju mereka dari pintu al-Masjidul Haram. Mereka setuju dan mereka menunggu orang yang datang pertama kali. Ternyata orang yang ditunggu-tunggu tersebut adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan ketika mereka melihatnya, merekapun berteriak: “Inilah orang yang dapat dipercaya, kami rela, ini Muhammad.” Saat Muhammad –Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam- tiba dihadapan mereka, merekapun memberitahukan padanya tentang kesepakatan itu, lalu Muhammad –Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam- berkata: “Ambilkan untukku selembar kain, merekapun membawakannya, lalu beliau meletakkan Hajar Aswad ditengah kain tersebut kemudian berkata: “Setiap suku hendaklah memegang bagian dari sisi kain kemudian angkatlah bersama-sama, merekapun melakukannya, ketika sampai ditempatnya beliau mengambil Hajar Aswad tersebut dengan tangannya yang mulia dan meletakkan ditempatnya.

Ketika Quraisy berniat kuat untuk membangun Ka’bah dengan uang halal mereka sungguh mereka mengumpulkan semampunya untuk urusan ini, namun ternyata biaya yang berasal dari harta yang halal lagi murni yang ada pada mereka tidak mencukupi, oleh sebab itulah orang-orang Quraisy mengeluarkan Hijir atau Hathim dari bangunan ka’bah dan memberi tanda yang menunjukkan bahwasannya itu bagian dari Ka’bah.

Dalam shahih Bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepada Aisyah Radhiallahu ‘Anha: “Tidakkah kau perhatikan bahwa Kaummu telah kekurangan dana? Kalalulah tidak kerana dekat masa mereka dengan kekufuran pastilah aku bongkar Ka’bah dan aku buatkan untuknya pintu timur dan pintu barat, dan akan kumasukkan Hijir itu kedalamnya.”

Ketika masa pemerintahan amirul mukminin Abdullah Ibnu Zubair Radhiallahu ‘Anhu datang, dia menetapkan untuk mengembalikan bangunan Ka’bah seperti yang diinginkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada masa hidupnya. Ibnu Zubair Radhiallahu ‘Anhu meruntuhkannya dan mengembalikan bangunannya seperti semula. Dia menambahkan padanya apa yang dulu orang Quraisy tidak mampu membangunnya karena minimnya dana. Yaitu Hijir yang berukuran sekitar 6 hasta, dia menambah 10 hasta untuk tingginya, dan membuat dua pintu, yang satu dari timur yang lain dari barat. Orang-orang masuk dari pintu yang satu keluar dari pintu yang lain dan menjadikan Ka’bah sangat bagus dan megah, sesuai dengan bentuk yang diinginkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagaimana yang dikatakan kepada bibinya, yaitu Aisyah Radhiallahu ‘Anha.

Pada masa Abdul Malik bin Marwan, Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi menulis surat untuknya yang berisi tentang perbuatan Ibnu Zubair Radhiallahu ‘Anhu terhadap Ka’bah. Hajjaj menyangka bahwa Ibnu Zubair melakukannnya berdasarkan pendapat dan ijtihad semata. Lalu Abdul Malik membalas surat Hajjaj agar dia mengembalikan Ka’bah sebagaimana keadaan yang dulu maka Hajjaj membongkar dinding bagian utara Ka’bah dan mengeluarkan dinding Ka’bah tersebut sebagaimana yang pernah dibangun suku Quraisy. Dan membuat satu pintu dan menutup pintu lain. Kemudian ketika hadits Aisyah Radhiallahu ‘Anha sampai kepada Abdul Malik dia menyesali apa yang telah dia lakukan dan berkata: “Alangkahkah senangnya jika kami dulu membiarkannya, dan apa yang telah ia lakukan terhadapnya.”

Akhirnya Abdul Malik berkeinginan untuk mengembalikan Ka’bah seperti yang telah dibangun oleh Ibnu Zubair, lalu Abdul Malik meminta pendapat Imam Malik tentang hal itu, lalu Imam Malik melarangnya kerena takut wibawa Ka’bah hilang, lalu setiap raja yang datang akan menghapus perbuatan raja yang sebelumnya dan menghalalkan kehormatan Ka’bah.

Adapun akhir pembangunan Ka’bah berada pada masa pemerintahan Utsmani tahun 1040 H ketika Makkah dilanda banjir besar yang menenggelamkan Masjidil Haram yang ketinggian banjirnya mencapai lampu yang tergantung, yang banjir itu juga menjadi penyebab lemahnya bangunan Ka’bah. Ketika Muhammad Ali Basya penguasa Mesir memerintahkan para Insinyur yang mahir dan pekerja-pekerja merobohkan Ka’bah dan mereka mernovasi bangunan Ka’bah, pembangunan berlangsung tepat setengah tahun dan penguasa tersebut membebani mereka dalam pembangunannya harta yang banyak sampai tuntaslah pekerjaan tersebut.

Jadilah Ka’bah senantiasa tinggi lagi megah dan menggetarkan hati orang-orang beriman dan demikian juga akan terus menerus megah sampai Allah menetapkan orang-orang Ethiopia dan mereka mengeluarkan bagian tertinggi dari Ka’bah.

Secara umum sesungguhnya Ka’bah mempunyai sejarah panjang yang penuh kejadian dan pelajaran yang harus kita sadari dan kita ambil pelajarannya. Kita mohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menjaga rumah-Nya yang mulia dan segala puji bagi Allah yang pertama dan Yang terakhir. 


post by herryblank

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar